Rencana Australia untuk menerapkan kebijakan sensor atas sejumlah pengguna internet di negaranya, mendapat kecaman dari Google. Tapi, kecaman itu langsung dibalas kritikan dari Menteri Komunikasi Australia.

Menurut Stephen Conroy, kecaman yang dilakukan Google terlalu berlebihan. Pasalnya, Menteri Komunikasi Australia melihat adanya pernyataan penolakan yang dilakukan dari pemerintah Presiden Barack Obama. Tidak seperti di China, dimana Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Hillary Clinton harus turun tangan menyikapi permasalah antara pemerintah negeri Tirai Bambu dengan Google.
"Saya tidak melihat adanya komplain dari Pemerintah Obama terkait masalah kebijakan sensor di internet. Jadi buat apa Google berkomentar dan merasa ketakutan," terang Conroy dalam wawancaranya dengan BBC, yang dikutip Sydney Morning Herald, Rabu (31/3/2010).
Seperti diketahui, Australia tengah menggodok kebijakan untuk mengatur akses internet bagi warganya. Sehingga nantinya, pengguna internet di Australia hanya bisa mengakses situs-situs yang telah lolos proses penyaringan.
Tak pelak, kebijakan ini membuat Google trauma. Karena sebelumnya, raksasa mesin pencari itu baru saja mengalami masalah dengan kebijakan sensor, yang membuat mereka harus hengkang dari China. Tentu saja, mereka tidak ingin kejadian tersebut akan terulang untuk kedua kalinya.
Langkah seperti ini tak hanya dilakukan Australia. Arus informasi yang sangat pesat melalui internet memancing kekhawatiran akan konten-konten tidak pantas yang bisa meracuni penggunanya.

